Olah Raga menembak adalah salah satu jenis olahraga yang dapat membentuk kepribadian seseorang . Melalui olah raga menembak , seseorang dilatih dan di tuntut untuk dapat berkonsentrasi tinggi , mampu mengendalikan diri , berani mengambil keputusan secara cepat dan tepat .
AJI SEROWONDO adalah aji yang berguna untuk ketepatan dalam menembak . Maka penting sekali aji ini diamalkan oleh para prajurit , atlet menembak , pemburu atau orang yang pekerjaannya berhubungan dengan senapan .
Agar orang dapat menembak dengan tepat mengenai sasaran , maka lakukanlah petunjuk di bawah ini :
1 . Berpuasa selama 7 hari , sebagaimana puasa biasa dengan niat karena Allah Swt . Dalam berpuasa harus disertai MUTIH , yaitu tidak boleh makan makanan yang mengandung garam dan tidak boleh makan lauk pauk yang asalnya bernyawa , seperti ikan , daging .
2. Pada hari yang ke tujuh ( 7 ) puasannya harus disertai PATI GENI . Yaitu tidak boleh tidur sehari semalam , meskipun hanya sesaat .
3. Selama menjalani puasa , setiap selesai shalat fardhu supaya membaca ayat di bawah ini 21 kali .
4. setelah itu , pada saat akan digunakan supaya ayat tersebut dibaca lagi sebanyak tiga kali atau sepuluh kali
Ayat yang di baca :
WA MAA RAMAITA IDZ RAMAITA WA LAAKINNALLAHA RAMAA
Insya'allah setelah AJI SEROWONDO ini diamalkan , segala sasaran yang ditembak akan terkena dengan tepat .
Salam hormat
Jumat, 16 Maret 2012
Minggu, 11 Maret 2012
Doa menghadapi ujian / UAS/UAN
Bagi pelajar pasti akan menghadapi ujian , baik ujian akhir sekolah / ujian akhir nasional . Tentunya mereka menghadapinya dengan perasaan berdebar . Sebab pada hasil ujian itulah nasib mereka ditentukan . Mereka yang sebelumnya selalu giat belajar tentu akan memetik buahnya , lulus ujian dengan nilai yang gemilang . Sebaliknya mereka yang sebelumnya malas belajar , mereka akan mengalami kegetiran , sebab ia tidak lulus dalam ujian . Tetapi semua itu rekaan belaka . Karena pada akhirnya ketentuan ada didi tangan Allah SWT . Oleh sebab itu sebelum menjalani masa ujian seharusnya banyak banyak mendekatkan diri pada Allah Swt sambil berdo'a agar dapat lulus dalam ujian .
Di bawah ini ada petunjuk bagaimana seharusnya seorang pelajar mempersiapkan diri dalam menghadapi ujian .
Inilah carannya :
1 . selain giat belajar , sebelum ujian berpuasalah ! Minimal 1 hari .
2 . Dalam berpuasa itu setiap habis shalat fadhu bacalah do'a di bawah ini , minimal 1 kali .
3 . Pada waktu akan mengerjakan soal soal ujian itu bacalah do'a dibawah ini 1 kali . Baru setelah itu soal soal dikerjakan dengan tenang serta penuh percaya kepada kemampuan diri sendiri .
Inilah do'a yang di baca :
ALLAHUMMA NAWWIR QULUUBANAA KAMAA NAWWARTAL ARDHA BI NURSI SYAMSIKA ABADAN ABADAA
( Ya Allah , sinarilah hatiku sebagaimana Engkau sinari bumi dengan cahaya matahari-Mu selama lamanya )
Di bawah ini ada petunjuk bagaimana seharusnya seorang pelajar mempersiapkan diri dalam menghadapi ujian .
Inilah carannya :
1 . selain giat belajar , sebelum ujian berpuasalah ! Minimal 1 hari .
2 . Dalam berpuasa itu setiap habis shalat fadhu bacalah do'a di bawah ini , minimal 1 kali .
3 . Pada waktu akan mengerjakan soal soal ujian itu bacalah do'a dibawah ini 1 kali . Baru setelah itu soal soal dikerjakan dengan tenang serta penuh percaya kepada kemampuan diri sendiri .
Inilah do'a yang di baca :
ALLAHUMMA NAWWIR QULUUBANAA KAMAA NAWWARTAL ARDHA BI NURSI SYAMSIKA ABADAN ABADAA
( Ya Allah , sinarilah hatiku sebagaimana Engkau sinari bumi dengan cahaya matahari-Mu selama lamanya )
Kamis, 08 Maret 2012
Mangatasi EKSIM
EKSIM adalah sejenis penyakit kulit yang biasanya banyak menyerang pada kaki . Penyakit yang berkesan menjijikkan ini dapat disebabkan oleh beberapa macam , seperti : kurang kebersihan , kekurangan vitamin K , kekurangan asam nikotin , darah kotor , atau makan ikan laut , udang , kepiting , teri dan lain lain .
Gejala EKSIM biasanya :
Rasa gatal , panas , ingin selalu di garuk .
Bintik bintik kecil berair , atau kering .
Terdapat disela sela kaki , paha , atau tangan .
Penyakit yang merepotkan penderita karena gatalnya yang selalu ingin digaruk ini , dapat disembuhkan dengan beberapa resep dibawah ini .
A . Bahan
Buah pinang ( Areca Catechu , L ) = 1 buah
Minyak kelapa ( cocos nucifra ) = 5 gram
Belerang = 5 gram
Cara membuatnya :
Pinang dan belerang ditumbuk halus , diberi minyak kelapa lalu dipanggang di atas api sampai mendidih .
Cara menggunakan :
Dalam keadaan hangat , oleskan pada bagian yang kena EKSIM tersebut .
Ulangi beberapa kali sehari , dan lakukan setiap hari .
B . Bahan
Daun sambiroto ( Andrographis paniculata , Nees ) = 50 gram
Daun ketepeng cina ( Cassia alata , Linn ) = 25 gram
Belerang = 15 gram
Cara membuat :
Semua bahan ditumbuk halus , diberi minyak kelapa dan dipanaskan diatas api , biarkan sampai mendidih .
Cara menggunakan :
Dioleskan pada bagian yang terkena EKSIM secara berulang ulang setiap hari .
Salam Hormat
Gejala EKSIM biasanya :
Rasa gatal , panas , ingin selalu di garuk .
Bintik bintik kecil berair , atau kering .
Terdapat disela sela kaki , paha , atau tangan .
Penyakit yang merepotkan penderita karena gatalnya yang selalu ingin digaruk ini , dapat disembuhkan dengan beberapa resep dibawah ini .
A . Bahan
Buah pinang ( Areca Catechu , L ) = 1 buah
Minyak kelapa ( cocos nucifra ) = 5 gram
Belerang = 5 gram
Cara membuatnya :
Pinang dan belerang ditumbuk halus , diberi minyak kelapa lalu dipanggang di atas api sampai mendidih .
Cara menggunakan :
Dalam keadaan hangat , oleskan pada bagian yang kena EKSIM tersebut .
Ulangi beberapa kali sehari , dan lakukan setiap hari .
B . Bahan
Daun sambiroto ( Andrographis paniculata , Nees ) = 50 gram
Daun ketepeng cina ( Cassia alata , Linn ) = 25 gram
Belerang = 15 gram
Cara membuat :
Semua bahan ditumbuk halus , diberi minyak kelapa dan dipanaskan diatas api , biarkan sampai mendidih .
Cara menggunakan :
Dioleskan pada bagian yang terkena EKSIM secara berulang ulang setiap hari .
Salam Hormat
Jumat, 02 Maret 2012
Puncak Songo Likur ( Sapto Argo )
Abiyoso adalah salah satu puncak gunung Muria di Jawa Tengah. Di puncak ini bersemayam seorang tokoh spiritual Eyang Abiyoso.Kegiatan yang jauh jauh hari sudah saya rencanakan sedianya saya lakukan sendiri berubah menjadi kegiatan bersama dengan teman2 yang ingin ritual dan memperdalam daya supranatural dan spiritual di Gunung Sapta Arga atau di sebut juga Puncak songo likur atau puncak dua sembilan ( 29) di Eyang Abiyoso.
Tanpa temu teknik dan hanya bermodalkan tekad bulat di sertai dzikir kepada Allah SWT Dan HP ( Hanphone ) sebagai pusat kordinasi via sms, petualangan dimulai. Teman-teman dari Malang , Madura , Demak , Klaten, rembang dan depok Jabar sepakat untuk berkumpul di Demak Desa Kawung kemudian bersama-sama naik bus ke Kudus yang di sana telah menunggu teman-teman dari Rembang dan Depok.
Saya yang selalu ON TIME bersama Gus Slamet Riyadi shakhib telah stand by di TKP (Tempat Kumpul Peserta) sejak jam 09.00 WIB. Dengan lapang dada menunggui teman-teman saya, Abdul Khalik, Nurchalis,Budi siswanto, Triyatno Punjul, Abdul Bukhari,Sonny santoso,Anto,Ipung,Sireng,Damar dan yang lainnya datang satu persatu.
Kemudian Jam 11.30 barulah kami dapat bertolak ke Kudus. Sebetulnya sejam sebelumnya sudah siap. Namun bersamaan dengan sebuah bus yang datang, Hpku pun datang membawa sms dari Supri, teman dari semarang yang ingin ikut dalam rangka lelaku spiritual ke puncak songolikur di Eyang Abiyoso. Dari terminal Kudus, setelah ngumpul dengan teman-teman dari Kudus dan Jepara yang telah puas menunggu, kami menumpang angkot menuju Gebog. Angkot ini pada bulan sura seperti ini, memperjauh trayeknya hingga ke Rahtawu dan Semliro, dusun terakhir di kaki puncak Abiyoso dan Songolikur.
Menjelang senja, sampailah kami di desa Rahtawu. Meskipun saya sudah beberapa kali mendengar tentang para peziarah yang melakukan lelaku spiritual di puncak-puncak gunung Muria pada bulan sura, namun peziarah yang berkumpul di desa Rahtawu tak urung membuatku kaget. Apalagi teman-temanku. Ratusan peziarah hadir dari berbagai wilayah seperti Banyuwangi , cirebon , Kudus, Jepara, Pati, Demak dan Blitar. Juga dari berberapa kota-besar seperti Surabaya dan Jakarta. Bahkan ada yang berasal dari Sumatra, meskipun masih keturunan jawa.
Karena sudah hampir malam sedangkan cuaca semakin tidak bersahabat kami memutuskan untuk istirahat di Pertapaan Eyang Sakri dan tempat ini pun ramai sekali dengan para peziarah yang ingin ngalaf barakah dan juga ingin mempertajam kebatinannya atau ngolah rasa dan pendekatan kepada Tuhan Yang Maha Esa .
Kamipun ngobrol semalaman serta bertukar fikiran dan pengalaman dengan para peziarah lainnya untuk mempererat tali persaudaraan dan melatih ketulusan batin dengan menghilangkan rasa curiga dan buruk sangka. Yang pasti pas saya terbangun, semua masih tertidur pulas. Udarapun semakin terasa dinngin bahkan jaket yang saya kenakan sudah tidak mempan lagi.
Paginya, pendakian kami mulai dengan keyakinan yang dalam kepada sang Maha Pencipta . Kalau biasanya saya mendaki puncak songolikur ini sendirian , untuk kali ini rame2 bersama teman2 yang sepanjang perjalanan orang beriringan melewati jalan setapak yang sempit dan berkelok. Ada yang searah dengan kami menuju puncak dan tidak sedikit pula yang turun dari puncak.
Satu jam lamanya kami menyusuri jalan setapak di sela-sela perbukitan gunung Muria hingga sampailah di sebuah sungai kecil yang di sebut sendang Bunton dengan air terjun kecil di sebelah atasnya. Pemandangan yang sangat indah. Sambil beristirahat sejenak, beberapa rekan memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mandi dan ada pula yang hanya sekedar mencuci muka lantaran pagi tadi tidak berani mandi karena dinginnya udara.
Perjalanan pun berlanjut dengan medan semakin terjal dan tak hentinya berdzikir dalam hati .Dalam perjalanan setiap kali aku kelelahan, dengan tampang sok pahlawan saya menanyai Budi siswanto yang memang agak kurang sehat jasmani. “Lelah, gak? Jangan terlalu dipaksa. Kalau lelah berhenti dulu, saya temani.” Padahal, sih, saya sendiri yang kelelahan.
Menjelang pertengahan perjalanan, pemandangan penuh eksotisme terhampar. Jurang dengan lembah dan perbukitan gunung muria yang berjejer menyembul dari permukaan tanah seakan berlomba untuk menunjukkan dirinya. Pepohonan khas pegunungan yang pendek, berdaun jarang dan kecil-kecil dengan aneka lumut yang tumbuh memenuhi dahannya. Juga semak belukar dan paku-pakuan yang menghiasi tepian jalan setapak menyembunyikan tepian jurang curam yang tepat berada di sisi kaki kami.
Akhirnya sampai juga kami di puncak Abiyoso. Saya langsung Sujud di depan Pertapaan Eyang Abiyoso yang di ikuti teman2 lainya. Memang tidak nampak sebagai puncak sebuah gunung karena di sebelah barat laut masih terdapat rerimbunan hutan yang perawan. Di pendopo depannya tampak banyak para peziarah yang duduk-duduk dan sebagian lagi rebahan. Di belakangnya masih ada lagi sebuah bangunan yang dipergunakan oleh para peziarah untuk berisitirahat .
Setelah Seminggu atau 7 hari kami berada di pertapaan Eyang Abiyoso dengan kepuasan batin dalam ritual kami pun berencana melanjutkan perjalanan ke Pertapaan Eyang Semar yang berada di gunung satu lagi , dan untuk mencapai PUNCAK di tempat pertapaan Eyang Semar , kita juga zirah dan ngalaf barakah di Eyang Pikulun Narodo , Eyang Gajah Permodo ( Gajah Modo ) , Eyang Bambang Sekutrem , Nyai Dewi Kusumo , Begawan Milwo , Manik Kamonoyoso , Eyang Pandu Dewonoto dan sampailah ke Puncak Eyang Semar . ( Bersambung )
Salam Hormat
Tanpa temu teknik dan hanya bermodalkan tekad bulat di sertai dzikir kepada Allah SWT Dan HP ( Hanphone ) sebagai pusat kordinasi via sms, petualangan dimulai. Teman-teman dari Malang , Madura , Demak , Klaten, rembang dan depok Jabar sepakat untuk berkumpul di Demak Desa Kawung kemudian bersama-sama naik bus ke Kudus yang di sana telah menunggu teman-teman dari Rembang dan Depok.
Saya yang selalu ON TIME bersama Gus Slamet Riyadi shakhib telah stand by di TKP (Tempat Kumpul Peserta) sejak jam 09.00 WIB. Dengan lapang dada menunggui teman-teman saya, Abdul Khalik, Nurchalis,Budi siswanto, Triyatno Punjul, Abdul Bukhari,Sonny santoso,Anto,Ipung,Sireng,Damar dan yang lainnya datang satu persatu.
Kemudian Jam 11.30 barulah kami dapat bertolak ke Kudus. Sebetulnya sejam sebelumnya sudah siap. Namun bersamaan dengan sebuah bus yang datang, Hpku pun datang membawa sms dari Supri, teman dari semarang yang ingin ikut dalam rangka lelaku spiritual ke puncak songolikur di Eyang Abiyoso. Dari terminal Kudus, setelah ngumpul dengan teman-teman dari Kudus dan Jepara yang telah puas menunggu, kami menumpang angkot menuju Gebog. Angkot ini pada bulan sura seperti ini, memperjauh trayeknya hingga ke Rahtawu dan Semliro, dusun terakhir di kaki puncak Abiyoso dan Songolikur.
Menjelang senja, sampailah kami di desa Rahtawu. Meskipun saya sudah beberapa kali mendengar tentang para peziarah yang melakukan lelaku spiritual di puncak-puncak gunung Muria pada bulan sura, namun peziarah yang berkumpul di desa Rahtawu tak urung membuatku kaget. Apalagi teman-temanku. Ratusan peziarah hadir dari berbagai wilayah seperti Banyuwangi , cirebon , Kudus, Jepara, Pati, Demak dan Blitar. Juga dari berberapa kota-besar seperti Surabaya dan Jakarta. Bahkan ada yang berasal dari Sumatra, meskipun masih keturunan jawa.
Karena sudah hampir malam sedangkan cuaca semakin tidak bersahabat kami memutuskan untuk istirahat di Pertapaan Eyang Sakri dan tempat ini pun ramai sekali dengan para peziarah yang ingin ngalaf barakah dan juga ingin mempertajam kebatinannya atau ngolah rasa dan pendekatan kepada Tuhan Yang Maha Esa .
Kamipun ngobrol semalaman serta bertukar fikiran dan pengalaman dengan para peziarah lainnya untuk mempererat tali persaudaraan dan melatih ketulusan batin dengan menghilangkan rasa curiga dan buruk sangka. Yang pasti pas saya terbangun, semua masih tertidur pulas. Udarapun semakin terasa dinngin bahkan jaket yang saya kenakan sudah tidak mempan lagi.
Paginya, pendakian kami mulai dengan keyakinan yang dalam kepada sang Maha Pencipta . Kalau biasanya saya mendaki puncak songolikur ini sendirian , untuk kali ini rame2 bersama teman2 yang sepanjang perjalanan orang beriringan melewati jalan setapak yang sempit dan berkelok. Ada yang searah dengan kami menuju puncak dan tidak sedikit pula yang turun dari puncak.
Satu jam lamanya kami menyusuri jalan setapak di sela-sela perbukitan gunung Muria hingga sampailah di sebuah sungai kecil yang di sebut sendang Bunton dengan air terjun kecil di sebelah atasnya. Pemandangan yang sangat indah. Sambil beristirahat sejenak, beberapa rekan memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mandi dan ada pula yang hanya sekedar mencuci muka lantaran pagi tadi tidak berani mandi karena dinginnya udara.
Perjalanan pun berlanjut dengan medan semakin terjal dan tak hentinya berdzikir dalam hati .Dalam perjalanan setiap kali aku kelelahan, dengan tampang sok pahlawan saya menanyai Budi siswanto yang memang agak kurang sehat jasmani. “Lelah, gak? Jangan terlalu dipaksa. Kalau lelah berhenti dulu, saya temani.” Padahal, sih, saya sendiri yang kelelahan.
Menjelang pertengahan perjalanan, pemandangan penuh eksotisme terhampar. Jurang dengan lembah dan perbukitan gunung muria yang berjejer menyembul dari permukaan tanah seakan berlomba untuk menunjukkan dirinya. Pepohonan khas pegunungan yang pendek, berdaun jarang dan kecil-kecil dengan aneka lumut yang tumbuh memenuhi dahannya. Juga semak belukar dan paku-pakuan yang menghiasi tepian jalan setapak menyembunyikan tepian jurang curam yang tepat berada di sisi kaki kami.
Akhirnya sampai juga kami di puncak Abiyoso. Saya langsung Sujud di depan Pertapaan Eyang Abiyoso yang di ikuti teman2 lainya. Memang tidak nampak sebagai puncak sebuah gunung karena di sebelah barat laut masih terdapat rerimbunan hutan yang perawan. Di pendopo depannya tampak banyak para peziarah yang duduk-duduk dan sebagian lagi rebahan. Di belakangnya masih ada lagi sebuah bangunan yang dipergunakan oleh para peziarah untuk berisitirahat .
Setelah Seminggu atau 7 hari kami berada di pertapaan Eyang Abiyoso dengan kepuasan batin dalam ritual kami pun berencana melanjutkan perjalanan ke Pertapaan Eyang Semar yang berada di gunung satu lagi , dan untuk mencapai PUNCAK di tempat pertapaan Eyang Semar , kita juga zirah dan ngalaf barakah di Eyang Pikulun Narodo , Eyang Gajah Permodo ( Gajah Modo ) , Eyang Bambang Sekutrem , Nyai Dewi Kusumo , Begawan Milwo , Manik Kamonoyoso , Eyang Pandu Dewonoto dan sampailah ke Puncak Eyang Semar . ( Bersambung )
Salam Hormat
Langganan:
Komentar (Atom)