Salah satu rukun Islam yang 5 ( lima ) adalah Shoum atau puasa. Rukun Islam yang ke 4 ( empat ) ini mulai di syari'atkan oleh Allah SWT kepada umat Islam pada bulan Sya'ban tahun 2 Hijriah. Ash-Shoum itu sendiri menurut bahasa berarti MENAHAN , yakni menahan diri dan berpantang dari apa saja. Kata " Shoum " dalam artian demikian antara lain terdapat pada firman Allah SWT ketika berkisah tentang Maryam As :
INNII NADZARTU LIRRAHMANI SHOUMAN FALAN UKALLIMAL YAUMA INSIYA
Artinya : Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah , maka tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini . ( QS Maryam 26 )
Sedang menurut Syara' , shoum yang dimaksud ialah menahan diri dari segala yang membatalkan puasa , yang berupa memperturutkan syahwat perut dan farji , sejak terbitnya fajar dini hari sampai terbenamnya matahari , dengan niat khusus.
Dalil yang mewajibkan puasa dari Al Qur'an ialah firman Allah SWT :
YAA AIYUHALLDZINA AMANUU KUTIBA 'ALAIKUMUSHIYAMU KAMAA KUTIBA 'ALALLADZIINA MINGKHOBLIKUM LA'ALLAKUM TATTAKHUUNU.
Artinya :
Hai orang orang yang beriman , diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang orang sebelum kamu , agar kamu bertaqwa. ( QS Al Baqarah 183 )
Sedang dari As-Sunnah , antara lain hadist mashur :
Artinya :
Islam didirikan atas lima perkara : 1 . Bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah dan bahwa Muhammad itu utusan Allah , 2 . Menegakkan shalat , 3 . Memberikan zakat , 4 . Berpuasa di bulan ramadhan . ( HR Al Bukhari-Muslim )
Jumat, 27 Juli 2012
Senin, 02 Juli 2012
MENGENAL MANUSIA
Betapa mulianya mahkluk manusia yang kita kenal ini , Mahkluk Tuhan yang selalu berusaha mengenali diri dan jagat raya sekelilingnya dimana ia berada. Tak satupun diantara berjuta mahkluk diatas jagat raya ini , yang selalu mencari pemahaman mengenai hakekat dan keberadaan diri dan lingkungannya , kecuali manusia. Hanya manusialah sesungguhnya , makhluk yang selalu memiliki rasa-keingin-tahuan yang begitu tinggi , tapi sekaligus kegersangan batin.
Kegersangan intelektual manusia selalu muncul , ketika ia mencoba mencari tahu tentang hakekat dirinya. Dan kegelisahan akan selalu bertambah selagi manusia tidak berusaha menyadari kapasitas dan keterbatasan intelektualnya dalam menemukan jawaban yang pasti , mengenai siapa sesungguhnya Aku ini , kehidupan , serta maksud keberadaan diri-Ku di-atas-bumi-ini.
Memang , berbagai "kesimpulan akhir" akan dapat ditemukan oleh siapapun yang berusaha mempelajari manusia dan dirinya , baik melalui jalan mistik maupun jalan filsafat. Dalam tingkatan yang paling reflektif-spekulatif , jika tidak berhati hati , seseorang akan memasuki sebuah alam fikir di mana tak ada realitas , kecuali keabadian itu sendiri. Ketika ini diikuti , orang akan sampai pada kesimpulan yang bermacam macam. Paham "emanasi"misalnya akan sampai pada kesimpulan bahwa pancaran kehidupan abadi , dan manusia bagian tak terpisahkan dari pancaran itu , bagaikan partikel kecil yang tak memiliki eksistensi , karena ia merupakan bagian dari eksistensi besar keabadian itu sendiri.
Kegersangan intelektual manusia selalu muncul , ketika ia mencoba mencari tahu tentang hakekat dirinya. Dan kegelisahan akan selalu bertambah selagi manusia tidak berusaha menyadari kapasitas dan keterbatasan intelektualnya dalam menemukan jawaban yang pasti , mengenai siapa sesungguhnya Aku ini , kehidupan , serta maksud keberadaan diri-Ku di-atas-bumi-ini.
Memang , berbagai "kesimpulan akhir" akan dapat ditemukan oleh siapapun yang berusaha mempelajari manusia dan dirinya , baik melalui jalan mistik maupun jalan filsafat. Dalam tingkatan yang paling reflektif-spekulatif , jika tidak berhati hati , seseorang akan memasuki sebuah alam fikir di mana tak ada realitas , kecuali keabadian itu sendiri. Ketika ini diikuti , orang akan sampai pada kesimpulan yang bermacam macam. Paham "emanasi"misalnya akan sampai pada kesimpulan bahwa pancaran kehidupan abadi , dan manusia bagian tak terpisahkan dari pancaran itu , bagaikan partikel kecil yang tak memiliki eksistensi , karena ia merupakan bagian dari eksistensi besar keabadian itu sendiri.
Langganan:
Komentar (Atom)